http://compteur.cc/

Kamis, 12 Januari 2012

Antara Islam dengan Kufur

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (TQS Ibrahim [14]: 24-25). Sebagai agama dan ideologi yang diturunkan Allah Swt, kebenaran Islam tak terbantahkan. Demikian pula keadilan, kebaikan, dan keunggulan seluruh ajarannya, aqidah maupun syariahnya. Realita ini tentu berkebalikan dengan seluruh agama, ideologi, dan pemikiran lainnya yang kufur. Semuanya batil dan tidak dibangun di atas dasar argumentasi yang kuat. Semuanya melahirkan kerusakan dan mengantarkan manusia kepada kesengsaraan. Ayat-ayat ini memberikan penjelasan kepada kita untuk lebih memahami perbandingan antara Islam dengan Laksana Pohon yang Baik Allah Swt berfirman: Alam tara kayfa dharabal-Lâh matsal[an] thayyibat[an] kasyajarat[in] thayyibat[in] (tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik). Seruang ayat ini ditujukan kepada Rasulullah saw. Dijelaskan Ibnu Jarir al-Thabari bahwa ayat ini mengingatkan Nabi-Nya saw: Tidakkah engkaulah lihat dengan mata hatimu, wahai Muhammad, sehingga engkau mengetahui bagaimana Allah telah memberikan permisalan dan penyerupaan. Menurut al-Syaukani, bisa juga seruan tersebut kepada semua orang yang cocok dengan seruan ini. Diberitakan dalam ayat ini bahwa Allah Swt telah memberikan matsal[an] (perumpamaan). Kata al-matsal berarti perkataan yang mencakup seluruh penyerupaan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Demikian al-Baghawi dalam kitab tafsirnya, Ma’âlim al-Tanzîl. Perkara yang diberikan perumpamaannya adalah kalimah thayyibah. Menurut Ibnu ‘Abbas, maksud dari kalimah thayyibah adalah kalimat lâ ilâha illâl-Lâh. Penafsiran yang sama juga dikemukakan al-Baghawi. Al-jazairi menafsirkannya kalimat lâ ilâha illâl-Lâh Muhammad Rasûlul-Lâh. Tak jauh berbeda, Mujahid dan ibnu Juraij pun menafsirkannya sebagai keimanan. Al-Qasimi lebh luas. Menurutnya, perumpamaan tersebut menunjuk kepada Islam, agama yang dibawa khatâm al-anbinyâ`. Islam tersebut diumpamakan seperti syajarah thayyibah (pohon yang baik). Menurut beberapa mufassir, Ibnu Jarir al-Thabari, al-Baghawi, al-Jazairi, dan lain-lain, yang dimaksud dengan pohon yang baik di sini adalah al-nakhlah (kurma). Ada pula yang menyatakan bahwa pohon tersebut berada di surga. Sedangkan Fakhruddin al-Razi lebih memilih untuk menganilis sifat-sifat dari syajarah thayyibah tersebut. Tampaknya, pandangan lebih dapat diterima. Bahwa pohon tersebut memiliki sifat thayyibah. Kata ini mengandung banyak perkara, yakni: bagus bentuk dan susunannya, harum baunya, lezat rasa buah yang dihasilkannya, dan banyaknya manfaat yang dikandungnya. Semua fakta tersebut tercakup dalam kata thayyibah. Di samping itu juga: Ashluhâ tsâbit[un] (akarnya teguh). Akar merupakan bagian pohon terpenting dan paling menentukan bagi sebuah pohon. Sebuah pohon bisa berdiri kokoh manakala akarnya kuat menghunjam ke tanah. Sebuah pohon juga bisa tumbuh subur ketika akarnya sehat. Sebab, akar adalah bagian pohon yang berfungsi untuk menyerap air dan sari-sari makanan dan mengantarkannya ke seluruh bagian batang, ranting, daun, dan buahnya. Inilah sifat pohon baik yang digambarkan ayat ini: ashluhâ tsâbit. Artinya, râsikh âmin min al-inqilâ’ (kokoh dan aman dari tercerabut) lantaran kokohnya akar pohon tersebut menghunjam dalam tanah. Demikian al-Syaukani dalam tafsirnya. Bukan hanya akarnya yang kokoh, pohon itu juga: wa far’uhâ fî al-samâi (dan cabangnya [menjulang] ke langit). Dijelaskan al-Qasimi bahwa keberadaan cabangnya yang menjulang tinggi ke langit menunjukkan kesempurnaan pohon tersebut dari aspek ketinggian batangnya dan kekuatannya dalam menjulang, yang membuktikan kokohnya akar dan kokohnya pangkalnya. Sifat lainnya adalah: Tu`ti ukulahâ kulla hîn bi idzni Rabbihâ (pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya). Pengertian ukulaha adalah tsamrataha (buahnya). Sedangkan hîn, secara bahasa berarti al-waqt (waktu). Demikian penjelasan al-Baghawi. Itu artinya, pohon tersebut menghasilkan buah setiap saat, kapan pun dibutuhkan. Inilah gambaran Islam. Aqidah yang menjadi akarnya dibangun atas dasar dalil yang kuat dan kokoh sehingga tidak terbantahkan. Dari aqidah itu pula terpancar syariah yang menjadi cabang, daun, dan buahnya. Syariah tersebut memberikan jawaban dan penjelasan atas seluruh pertanyaan dan permasalahan yang dialami manusia; yang semuanya benar, adil, dan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Kemudian ditegaskan: Wa yadhribul-Lâh al-amtsâl li al-nâs la’allahum yatadzakkarûn (Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat). Mengomentari frasa ini, Wahbah al-Zuhaili mengatakan, “Demikianlah Allah Swt memberikan perumpamaan bagi manusia. Karena sesungguhnya dalam perumpamaan lebih dapat menambah pemahaman, peringatan, nasihat, dan menggambarkan berbagai makna. Pasalnya, penyerupaan makna yang sifatnya akliyyah dengan menggunanakan perkara yang terindera dapat mengokohkan makna, menghilangkan kesamaran dan keraguan sebagaimana perkara yang teraba. Dan di sini ada pemalingan pandangan yang mengajak manusia untuk mencermati, merenungkan, dan memahami maksud dari agungnya perumpamaan ini.” Laksana Pohon yang Buruk Allah Swt berfirman: Wa matasl kalimat[in] khabîtsat[in] ka syajarat[in] khabîtsat[in] (dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk). Jika kalimah thayyibah adalah kalimat tauhid, iman, atau aqidah Islam, maka pengertian kalimah khabîtsah, sebagaiamana dijelaskan al-Baghawi dan al-Zuhaili adalah al-syirk (kemusyrikan). Atau kalimat al-kufr beserta cabang-cabangnya, sebagaimana dikemukakan Abdurrahman al-Sa’di. Termasuk dalam cakupan kalimat tersebut adalah semua agama, ideologi, dan pemikiran kufur dan sesat. Semua ide tersebut dalam cakupan kalimah khabîtsah tersebut diserupakan dengan syajarah khabîtsah (pohon yang buruk). Menurut beberapa mufassir, pohon tersebut adalah al-hanthal (sejenis labu, namun pahit rasanya). Ada juga yang menafsirkannya dengan pohon al-syawk (pohon berduri). Menurut Fakhruddin al-Razi dalam Mafâtîh al-Ghayb, penafsiran tersebut tidak perlu terlalu dipersoalkan. Yang penting, sebagaimana disebutkan ayat ini, pohon tersebut khabîtsah (buruk). Buruk dari sisi baunya, rasanya, bentuknya, atau bahkan bahayanya yang banyak. Pohon tersebut memiliki semua sifat tersebut, sekalipun tidak ada faktanya. Sifat pohon yang buruk tersebut digambarkan dalam frasa berikutnya: [i]jtutsat min fawq al-ardh (yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi). Sifat ini kebalikan dari syajarah thayyibah yang akarnya menghunjam ke dalam tanah. Syajarah khabîtsah tersebut disebutkan [i]jtutsat min fawq al-ardh. Pengertian [i]jtutsat adalah [u]stu`shilat (tercerabut akarnya). Hakikat al-ijtitsâts adalah akhdz al-jutstsah kullihâ (tercerabut seluruh batangnya). Demikian al-Razi dalam tafsirnya. Dikatakan al-Zuhaili bahwa realitas tersebut sebagaimana syirik kepada Allah, yakni tidak ada hujjah, keteguhan, dan kekuatan. Kemudian ditegaskan dalam frasa: mâ lahâ min qarâr (tidak dapat tetap [tegak] sedikit pun). Mengingat akar merupakan bagian paling penting bagi pohon, maka ketika tercerabut, maka pohon itu pun lemah dan rapuh. Menurut al-Razi, kalimat ini seolah sebagai penyempurna terhadap sifat yang disebutkan sebelumnya. Bahwa pohon tersebut tidak memiliki kekuatan yang kukuh. Perumpamaan tersebut benar-benar sesuai dengan fakta al-kalimah al-khabîtsah. Bahwa pohon tersebut mengandung bahaya yang amat banyak dan kosong dari segela manfaat. Reaitas banyaknya bahaya digambarkan dengan kata khabîtsah. Sedangkan kosong dari segala manfaat digambarkan dengan kalimat: [i]jtutsat min fawq al-ardh mâ lahâ min qarâr (yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap [tegak] sedikit pun). Inilah perumpamaan yang sempurna menggambarkan perbandingan antara Islam dengan seluruh agama, ideologi, dan pemikiran kufur. Orang yang berakal, tentu tak akan tertarik dengan agama, ideologi, dan pemikiran, meskipun dikemas dengan propganda yang mempesona. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.(Ustadz Rokhmat S. Labib, M.E.I.) Ikhtisar: 1. Islam laksana pohon yang baik. Akidah yang menjadi akarnya kokoh, sedangkan syariah yang menjadi batang, cabang, dan buahnya memberikan jawaban sempurna atas seluruh problema manusia
2. Kekufuran laksana pohon yang buruk. Tidak dibangun atas dasar bangunan yang kokoh dan melahirkan bahaya bagi manusia
dikutip dari http://hizbut-tahrir.or.id/