http://compteur.cc/

Minggu, 08 April 2012

Lulusan Ujian Nasional Mudah

muapsein.blogspot.com



undgn
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membangun persepsi memudahkan kelulusan siswa sehingga semua civitas akademikan sekolah menjadi bermalas-malas atau tidak lagi bekerja keras mensukseskan pelaksanaan ujian nasional 2012. Tulisan ini lebih ditujukan agar semua pihak yang terlibat dalam proses kelulusan siswa khususnya guru dan siswa tidak menjadi paranoid, ketakutan yang berlebihan terhadap prosesi ujian nasional. Tulisan ini lebih disebabkan karena realitanya tidak sedikit siswa peserta ujian nasional mengalami ketakutan berlebihan bahkan gangguan mental ringan seperti susah tidur, panik dan kecemasan yang berlebihan yang justru berefek negatif terhadap menurunnya kesehatan fisik siswa. Bahkan kecemasan akan prosesi ujian nasional juga tidak semata muncul dikalangan siswa saja tetapi para juga para pengampu kebijakan di tingkat daerah, tidak kurang sekelas gubernur pun harus turun tangan untuk mengawal kesuksesan ujian nasional dengan mengadakan try out besar-besaran sambil berbagi kaos agar siswa termotivasi untuk mengikuti try out ujian nasional.
Kata lulus menjadi sangat mudah untuk dicapai oleh para siswa. Hal ini sebabkan syarat kelulusan yang lebih ringan dibandingkan tahun sebelumnya. Ketentuan kelulusan yang di desain 40% adalah dari nilai rapor semester 1 sampai dengan semester 6, dan 60 % dilihat dari nilai ujian nasional, tentu saja sangat membantu siswa dalam meraih predikat lulus. Dengan ketentuan seperti ini maka sekolah yang hanya diberikan porsi 40% penentu kelulusan dalam realitanya angka 40% ini bisa meningkat menjadi 60% penentu kelulusan siswa. Adalah hak sekolah untuk memberikan nilai rata-rata 7 atau bahkan nilai 10 dalam raport siswa, dan hal ini sangat sah dilakukan sekolah karena tidak ada parameter standar terhadap nilai 7 atau 10 antara satu sekolah dengan sekolah lain. Nilai 10 di sekolah tertentu bisa jadi adalah nilai 5 di sekolah yang lain. Maka sekali lagi walaupun bobot ujian sekolah hanya 40%  realitanya nilai ujian sekolah bisa menjadi 60% penentu kelulusan siswa. Sebagai contoh adalah jika siswa harus lulus dengan memiliki nilai rata-rata 5,5 maka siswa dapat meraih nilai rata-rata itu dengan mendapatkan nilai ujian sekolah 9 atau bahkan nilai maksimal 10 sehingga untuk lulus siswa cukup mendapatkan nilai ujian nasional 4 saja. Dengan hitungan (40 % x 9) + (60 % x 4) = 3,6 + 2,4 = 6,0. Nilai 3,6 ujian sekolah merupakan 60 % dari total penentu kelulusan siswa. Jadi untuk sekedar lulus bagi siswa adalah sangat mudah. Jadi "Hari gini stress tidak lulus ujian nasional apa kata dunia"
Lulus adalah sangat mudah tetapi sebetulnya yang menjadi problematika bagi siswa kelas ujung yaitu 6 SD, 9 SMP dan 12 SMA bukan terletak pada permasalah lulus atau tidak lulusnya siswa dari jenjang pendidikan yang selama ini mereka tempuh, tetapi lebih bagaimana siswa mendapatkan sekolah lanjutan. Pertama sistem seleksi siswa di sekolah lanjutan yang menggunakan dasar nilai ujian nasional menuntut siswa untuk lebih berjuang mendapatkan nilai ujian nasional yang baik agar bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih baik. Kedua nilai ujian nasional yang bukan menjadi syarat utama kelulusan menjadi point penting untuk meningkatkan kejujuran sekolah terhadap pelaksanaan dan hasil ujian nasional. Rekayasa nilai ujian nasional menjadi berkurang sehingga setiap siswa mesti berjuang maksimal untuk mendapatkan nilai ujian nasional yang baik, agar supaya lebih mudah dalam mencari sekolah favorit. Problematika siswa dan orang tua bukan terletak pada kata lulus atau tidak lulus tetapi lebih kepada bagaimana mendapatkan nilai ujian nasional yang tinggi agar lebih mudah mencari sekolah lanjutan.
Untuk mendapatkan nilai ujian nasional yang tinggi tentunya harus dihadapi dengan sebuah strategi, bukan hanya dihadapi dengan rasa stres yang berlebihan. Nilai ujian nasional yang optimal bisa diraih dengan meningkatkan kemampuan siswa untuk mempetakan dirinya dalam empat hal.
1. Peta Kompetensi Siswa
Ujian nasional akan menjadi jauh lebih mudah di persiapkan siswa jika siswa mampu mempetakan dirinya termasuk dalam kelompok siswa yang tahu. Siswa tahu apakah dirinya tahu atau siswa tahu apakah dirinya belum tahu terhadap suatu materi yang akan dikeluarkan dalam soal ujian nasional. Kemampuan ini akan memberikan arahan yang jelas bagi guru untuk melakukan pengayaan materi dan akan menfokuskan belajar siswa kepada materi pelajaran yang dia belum tahu. Diharapkan jangan sampai satu bulan sebelum pelaksanaan ujian nasional siswa justru tidak tahu apakah dirinya tahu atau tidak tahu bahwa dia belum tahu terhadap suatu materi yang akan diujikan. Membutuhkan ketrampilan khusus agar siswa dapat mempetakan dirinya termasuk kedalam kelompok orang yang tahu bahwa dia sudah tahu, tahu bahwa dia belum tahu atau bahkan tidak tahu bahwa dia tahu, atau bahkan siswa tidak tahu kalau dirinya tidak tahu.
2. Peta Materi
Secara bercanda penulis selalu mengatakan kepada siswa bahwa haram hukumnya belajar seluruh materi kelasi 7, 8 dan 9 SMP atau kelas 10,11 dan 12 SMA dalam menghadapi ujian nasional. Hal ini lebih karena pertama siswa akan menjadi stres ketika belajar seluruh materi dalam waktu yang sangat singkat sedangkan beban materi yang cukup banyak. Kedua adalah bahwa dalam setiap materi di kelas 7, 8 dan 9 SMP atau 10, 11 dan 12 SMA terdapat materi yang wajib, sunah atau bahkan materi yang makruh untuk dipelajari. Materi wajib adalah materi yang terdapat dalam SKL atau sering dikeluarkan dalam pelaksanaan ujian nasional sebelumnya. Sedangkan materi sunnah adalah materi yang kemungkinan bisa keluar dalam ujian nasional. Dan materi makruh adalah materi yang sangat jarang atau bahkan tidak mungkin dikeluarkan dalam prosesi ujian nasional. Dengan kemampuan siswa mempetakan materi ini maka siswa dapat fokus belajar kepada materi yang wajib saja. Acuan utama dalam menentukan materi wajib, sunnah atau makruh adalah Standar Kompetensi Lulusan (SKL) ujian nasional yang setiap tahun diterbitkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional. SKL inilah yang menjadi guiding dalam proses belajar siswa. Dengan kata lain siswa cukup belajar SKL untuk mendapatkan nilai ujian nasional.
3. Peta Waktu
Waktu pelaksanaan ujian nasional yang semakin dekat menutut siswa dan pengajar untuk dapat menggunakan waktu seefektif dan seefisien mungkin. Ujian nasional yang hanya mensisakan waktu kurang lebih 30 hari dapat dioptimalkan untuk proses balajar siswa secara sistematik. Siswa dapat membagi waktu yang hanya tinggal 30 hari untuk belajar 6 bidang studi, maka kurang lebih siswa dapat mengalokasikan 5 hari untuk belajar satu bidang studi. Fokus belajar siswa dalam seharinya dapat dialokasikan pada basis jumlah soal ujian nasional atau berbasis pada jumlah indikator dalam SKL ujian nasional. Misal kalau jumlah soal ujian nasional
adalah 40 per bidang studi, maka siswa mengoptimalkan belajar 8 soal per hari. Atau jika berbasis pada indikator dalam SKL yang rata-rata adalah 20 indikator per bidang studi maka setiap siswa cukup belajar 4 indikator setiap hari. Dengan sistem pemetaan waktu dan beban belajar ini maka siswa diharapkan tidak akan stres dalam menghadapi ujian nasional.
4. Peta Prediksi
Soal ujian nasional dibuat semaksimal mungkin bisa mengakomodir seluruh bobot soal. Pembuat soal akan membuat soal dalam kategori mudah, sedang dan sulit. Tetapi tentu saja bobot soal ini dilihar dari kacamata si pembuat soal atau guru. Efeknya mungkin sangat berbeda jika kita berbicara dengan siswa, soal yang mereka hadapi bisa mungkin saja berada pada kategori sulit dan sulit bagi siswa. Kemampuan guru dan siswa memilah-milah soal dan membuat prediksi ujian nasional 2012 tentu akan sangat membantu siswa dalam mencapai sukses ujian nasional.
Dengan kemampuan siswa mempetakan dirnya, mempetakan materi, mempetakan waktu dan membuat peta prediksi ujian nasional ini akan memudahkan siswa dalam meraih kelulusan dan siswa akan mendapatkan nilai ujian nasional yang tinggi dengan tetap mengutamakan prinsip kejujuran dan jauh dari cara-cara curang dalam meraih kata sukses ujian nasional,"Hari Gini Curang Ujian Nasional Apa Kata Dunia"
Disadur dari :
M. Syamsul Ma'Arif
Pengerak PuSPA Pusat Studi Pendidikan
Alternatif