http://compteur.cc/

Kamis, 28 Juni 2012

Krisis Eropa Dikhawatirkan Turunkan Harga Saham di Indonesia


Kekhawatiran krisis Yunani dan Spanyol saat ini akan menurunkan kinerja ekonomi Eropa dan Amerika, akibatnya terjadi penurunan harga saham di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (22/6/2012).

"itu berdampak ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Yang terjadi selama 2012 itu kan dampaknya di pasar saham. Kenapa harga sahamnya turun? Investor asing melepas saham tidak hanya di Indonesia tapi juga di berbagai negara. Itu dampak yang terjadi," .

Perry mengatakan, sepanjang 2012 ini, arus modal asing yang masuk (inflow) ke pasar saham hanya sekitar Rp 2,8 triliun. Itu terjadi setelah kemarin terjadi reversal (pemutaran) namun, lanjut Perry, obligasi masih terjadi inflow.

"Bahkan, pada minggu kedua juni ini terjadi inflow SBN asing Rp 1,2 triliun sehingga keseluruhan Rp 1,6 triliun untuk obligasi. jadi lagi-lagi dampaknya adalah krisis eropa tidak menentu," tutur Perry.
Guna menghadapi dampak krisis ini, lanjut Perry, Bank Indonesia sebagai bank sentral pun akan melakukan intervensi di pasar valuta asing dan SBN di pasar sekunder. Lalu, BI juga akan mencoba untuk tambah pasokan di pasar valuta asing dengan Term Deposit valas.

"Kami juga sedang menyiapkan langkah-langkah pengembangan untuk pasar derivatif di pasar valas," tambah Perry.
Perry menambahkan, bila semua negara kawasan mengalami perlemahan ekonomi akibat dari krisis Eropa tersebut, maka BI sebagai bank sentral turut menjaga perekonomian Indonesia agar tidak seburuk dengan negara kawasan, misalnya di Asia Tenggara.

"Contoh, kalau kita hitung dari April misalnya pelemahan rupiah itu sekitar 2,4 persen. itu sejalan dengan pelemahan Singapura, Thailand, bahkan pelemahan kita lebih rendah dari pelemahan ringgit. Begitu kita mengelolanya, kalau negara lain menguat, kita juga akan mengalami penguatan,"