http://compteur.cc/

Kamis, 24 November 2011

Apa kata mereka tentang Nuklir


Jakarta, Infonuklir (22/11/2011). PLTN adalah solusi paling tepat dan prospektif untuk mengatasi krisis energi di INdonesia. Persepsi yang keliru mengenai nuklir sesungguhnya bisa diatasi dengan sosialisasi yang tepat dan efektif. Selebihnya, memang dibutuhkan keberanian segenap elemen negara untuk mengambil meputusan yang cepat dan tepat dalam rangka mengimplementasikan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Jika pemerintah benar-benar merealisasikan pembangunan PLTN, listrik murah dan merata tentu bukan lagi mimpi bagi rakyat Indonesia.
Hal ini terungkap dalam acara bedah buku "Apa kata mereka tentang Nuklir?" yang disunting oleh Komarudin Hidayat, Selasa (22/11/2011), di Hotel Novotel, Jakarta.

Sebagai orang muslim, Komaruddin Hidayat sangat percaya dengan science, karena hanya dengan science, maka misi kekhalifahan manusia dapat terpenuhi karena dapat mengolah semua yang ada dimuka bumi ini. "Science itu berkembang bukan secara linier tetapi loncat-loncat dan inovasi dari teknologi science itu berdampak besar pada berbagai bidang kehidupan", kata Komaruddin Hidayat.

Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini sangat mendukung pemanfaatan nuklir di Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bentuk dukungan yang diberikannya adalah dalam bentuk moral karena ia percaya dengan the power of science dan sesuai agama yang ia anut, Islam itu pro inovasi, Islam itu pro research. "Agama yang saya pahami adalah agama yang sangat mendorong rasionalitas dan intelektualitas", tegas Komaruddin lagi.

Komaruddin Hidayat menjelaskan bahwa buku "Apa kata mereka tentang Nuklir?" berisi tiga hal. Pertama apa kata ulama-ulama yang selama ini kita tidak mengira mereka ternyata banyak yang mendukung. Kedua dari kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang rata-rata sangat mengkritisi pemanfaatan energi nuklir. Dan yang ketiga adalah informasi dan data-data pengalaman. "Bagi saya yang namanya kemajuan itu pasti ada risikonya", imbuhnya.Seperti halnya pesawat terbang yang penuh dengan risiko, tetapi begitu kita menaikinya, maka kita siap menghadapinya. Begitu juga halnya dengan nuklir, memang penuh dengan risiko akan tetapi manfaatnya sangat luar biasa.

Acara yang diselenggarakan atas kerjasama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) ini, dan dibuka oleh Deputi Bidang Pengembangan Teknologi dan Energi Nuklir - BATAN, Adiwardojo, dan dimoderatori oleh wartawan senior Parni Hadi, serta menghadirkan pembahas Muhammad AS Hikam (mantan Menristek) dan Boby Adhitya Raizaldi (anggota Komisi VII DPR-RI).

Dalam sambutannya, Adiwardojo menjelaskan bahwa di Indonesia, nuklir hanya dimanfaatkan untuk maksud damai, tidak ada keingginan memanfaatkan nuklir untuk senjata, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang ikut menandatangani Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT). Nuklir bukan hanya untuk bom atau energi listrik, tetapi nuklir juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, seperti di bidang pertanian, peternakan, kesehatan, air, dan industri.

Hal yang paling penting dalam proses pembuatan kebijakan khususnya untuk pembangunan PLTN di suatu negara adalah penerimaan masyarakat (Public acceptance) terhadap kehadiran PLTN itu, terutama masyarakat yang tinggal di daerah sekitar dibangunnya PLTN. Membuat publik mengerti akan teknologi baru, apalagi teknologi yang dianggap canggih, bukanlah perkara mudah. Sehingga, perlu cara yang sangat arif agar sosialisasi kepada masyarakat berjalan dengan baik dengan sikap saling terbuka dan percaya. Buku "Apa kata mereka tentang Nuklir?" ini merupakan rangkuman pokok-pokok pikiran dan pendapat masyarakat dari berbagai kalangan tentang mengapa Indonesia penting dan harus segera membangun PLTN.

Adiwardojo berharap dengan acara bedah buku ini dapat memberikan masukan mengenai strategi sosialisasi dan pemanfaatan nuklir Indonesia yang dapat dijadikan acuan oleh BATAN dalam rangka sosialisasi iptek nuklir. (arial)