http://compteur.cc/

Rabu, 23 November 2011

ASEAN dalam Pusaran Globalisasi


Dalam tiga tahun terakhir, aneka ujian ekonomi silih berganti menerpa negara-negara di dunia, tidak terkecuali negara di kawasan ASEAN. Pada 2008 lalu krisis keuangan dunia sempat menghancurkan beberapa negara di ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Namun, pada 2010 negara-negara tersebut beranjak pulih dan sepenuhnya kemudi ekonomi bisa dikendalikan lagi. Tidak lama setelah itu, ujian datang dalam wujud kerja sama ekonomi ASEAN plus China (ASEAN China Free Trade Agreement/ACFTA).

Umumnya, negara-negara anggota ASEAN kalah bersaing dengan China sehingga neraca perdagangannya cenderung defisit berhadapan dengan China, termasuk Indonesia.

Saat ini ASEAN juga dihadapkan dengan krisis ekonomi yang terjadi di negara-negara maju (AS, Uni Eropa, dan Jepang) sehingga pasti akan memengaruhi kinerja ekonomi 2012. Situasi inilah yang menjadi latar belakang penyelenggaraan KTT ASEAN pekan lalu.

Kapasitas Ekonomi ASEAN

Jika dibagi dalam dua kategori besar, anggota ASEAN terdiri atas lima negara yang memiliki kekuatan ekonomi cukup besar dan lima negara yang ukuran ekonominya kecil. Lima negara yang mempunyai kekuatan cukup besar adalah Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Lima negara ini karakteristik ekonominya sebetulnya hampir sama, kecuali Singapura. Empat negara ekonominya berpijak pada sektor pertanian, industri, dan perdagangan; sedangkan Singapura kuat di sektor jasa. Sementara itu, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Brunei Darussalam tergolong kecil ukuran ekonominya.

Negara-negara ini juga relatif sama konsentrasinya, kecuali Brunei yang mengandalkan kepada minyak. Dengan deskripsi ini, kerja sama ekonomi di tingkat ASEAN sebetulnya juga tidak mudah dilakukan karena perbedaan keadaan “dua blok” itu.

Besar kecilnya ukuran ekonomi suatu negara biasanya diasosiasikan dengan produk domestik bruto (PDB). Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar (240 juta) memiliki PDB yang paling besar, yaitu USD706,74 miliar.

Setelah itu disusul oleh Thailand (USD312,61 miliar), Malaysia (USD237,96 miliar), Singapura (USD194,62 miliar), dan Filipina (USD188,72 miliar). Sedangkan Myanmar, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Brunei kekuatan PDB-nya jika digabung masih di bawah USD75 miliar (IMF, 2011). Sungguh pun begitu, PDB itu tidak secara otomatis menunjukkan daya beli rata-rata suatu negara.

Daya beli lebih dekat dengan menggunakan ukuran pendapatan per kapita (PDB dibagi jumlah penduduk), yang dari sisi ini Singapura, Thailand, dan Malaysia menyisihkan Indonesia. Jadi, PDB Indonesia besar lebih banyak disebabkan jumlah penduduk. Jika dilihat dari pertumbuhan ekonomi dari blok yang pertama, dalam tiga tahun terakhir relatif cukup seimbang, kecuali pada 2009.

Pada 2009 itu, Indonesia tumbuh 5,4 persen, Malaysia 4,6 persen, Thailand -2,3 persen, Singapura empat persen, dan Filipina tumbuh 1,1 persen. Namun, pada 2010 pertumbuhan ekonomi Thailand amat fantastis, yakni 7,8 persen.

Pertumbuhan tersebut hanya kalah dibandingkan Singapura 12 persen. Sementara itu, pada 2010 Indonesia tumbuh 6,1 persen, Malaysia 4,8 persen, dan Filipina 6,1 persen. Pada 2011 ini diproyeksikan empat dari lima negara akan tumbuh di atas 4,5 persen, hanya Thailand yang diprediksi tumbuh rendah, sekira 2,6 persen saja (IMF, 2011).

Titik Pijak Kerja Sama

ASEAN sebetulnya mempunyai daya tarik ekonomi yang tinggi, bukan semata karena pertumbuhan ekonominya yang bagus, melainkan juga memiliki potensi lain yang besar. Penduduk di ASEAN cukup besar, yaitu 700 juta jiwa, sehingga ini merupakan pasar yang potensial.

PDB-nya mencapai USD1,5 triliun (2010), investasi asing sebesar USD75,8 miliar (2010), dan pertumbuhan investasi asing menyentuh angka 131,8 persen. Ini menandakan wilayah ini merupakan salah satu tujuan investasi asing langsung, di samping China dan India.

Berikutnya, pertumbuhan perdagangan intra-ASEAN sebesar 31,2 persen per tahun dan nilai transaksi perdagangan intra-ASEAN pada 2010 sebesar USD519,7 miliar. Nilai transaksi itu melonjak amat signifikan dibanding 2009, di mana pada tahun tersebut nilai perdagangan intra-ASEAN baru USD76,2 miliar (Bloomberg, 2011).

Keadaan seperti itulah yang menjadikan ASEAN berada dalam pusaran tarikan kepentingan negara-negara raksasa ekonomi, khususnya AS dan China.

Pada KTT ASEAN minggu lalu, Obama dan Hu Jintao sama-sama datang ke Bali, yang tentu saja dimaksudkan hendak berebut pengaruh di ASEAN. Dalam konteks seperti ini kerja sama ekonomi ASEAN mesti bersandar kepada dua titik pijak.

Pertama, membuat pemerataan pembangunan ekonomi antaranggota ASEAN agar daya saing mereka dalam memasuki persaingan ekonomi dunia menjadi merata.

ASEAN hanya akan relevan apabila semua negara merasa mendapat manfaat dari kerja sama ekonomi. Jika tidak, ikatan regional ini mudah lepas dan menjadi sasaran godaan dari wilayah/negara lain. Kedua, AS saat ini sangat agresif dalam menawarkan kerja sama ekonomi (Trans- Pacific Partnership/TPP) kepada beberapa negara yang masuk dalam ASEAN, termasuk tawaran kepada Indonesia.

Sebaiknya, keikutsertaan maupun penolakan masing-masing negara untuk terlibat dalam TPP sudah dibicarakan pada level ASEAN. Jika memang satu kesepakatan tidak bisa diambil,sekurangnya negara yang ikut dalam TPP telah diketahui dan disetujui oleh anggota ASEAN lainnya.

Celakanya, proses ini tampaknya tidak dilakukan, terbukti Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam sudah setuju bergabung dalam TPP sebelum KTT ASEAN diselenggarakan, sedangkan Indonesia sampai hari ini sikapnya menolak bergabung.

ASEAN perlu lebih kritis lagi membaca peta perubahan ekonomi global agar keputusan yang diambil tidak menjerat kawasan ini dalam pusaran globalisasi ekonomi yang demikian buas.