http://compteur.cc/

Kamis, 29 Desember 2011

Credit Card: Benci tapi Rindu

Aaah…siapa tak kenal dengan kartu kredit. Kartu ajaib, plastik ajaib yang memberikan rasa kepada pemegangnya bahwa mereka memiliki uang lebih banyak daripada yang sebenarnya dimiliki. Orang bangga apabila memiliki lebih dari satu kartu kredit, apalagi dengan limit yang tinggi. Dengan kartu kredit, seseorang yang memiliki penghasilan dengan batas tertentu, serasa memiliki “uang” tambahan untuk meningkatkan daya beli dan mendukung gaya hidup yang seringkali sebenarnya di luar kemampuannya. Seorang teman mengeluhkan seringnya dia menggunakan kartu kredit, padahal sebenarnya di dompetnya ada juga kartu debit yang dapat memenuhi kebutuhannya. Hubungannya dengan kartu plastik ini seperti hubungan benci tapi rindu. Pada saat di titik dimana dia memutuskan untuk “taubat” dari menggunakan kartu kredit dan dapat membersihkan tagihan – tagihannya, maka hubungannya menjadi hubungan yang seringkali diwarnai benci. Benci menggunakan kartu kredit, benci pada tagihan yang bertubi – tubi, benci pada bunga tinggi yang dikenakan oleh kartu kredit tersebut. Akan tetapi, pada saat banyaknya godaan sale, pada saat ingin berlibur atau saat – saat berkumpul dengan teman, hubungan dengan kartu kredit menjadi hubungan yang penuh cinta. Apalagi kalau di saat tersebut uang tunai mulai menipis, gajian masih jauh dan tabungan sudah terlalu sering digerogoti. Maka kartu kredit dirasa seperti dewa penolong, dengan kemudahan gesek, maka semua permasalahan saat itu dirasa selesai. Bulan berikutnya, pada saat tagihan datang, maka rasa benci muncul kembali. Demikian hubungan benci tapi rindu yang ujung – ujungnya mengganggu keadaan keuangan terjadi terus menerus. Bagaimana caranya untuk mengakhiri hubungan benci tapi rindu tak berujung ini sebelum penggunaan kartu plastik ini mengganggu keuangan kita ? Pertama, harus kita pahami bahwa kartu kredit adalah alat untuk mempermudah pembayaran. Dia bukanlah uang tambahan yang diberikan kepada kita, akan tetapi merupakan hutang yang berbunga tinggi apabila tidak dibayarkan secara full payment setiap bulannya. Kartu kredit adalah kartu hutang, maka janganlah terlalu mudah untuk menggesek kartu tersebut, karena setiap kali menggesek, berarti anda sudah ada resiko bertambah hutang apabila tidak dibayarkan secara penuh. Kemudian, apabila kita tahu diri bahwa kita mudah tergoda menggunakan kartu kredit bukan hanya untuk kemudahan pembayaran, dan kegiatan membayar kartu kredit sudah menjadi kegiatan yang melelahkan fisik dan mental karena hutang yang dirasa tak ada habis – habisnya, maka inilah waktu yang tepat untuk “menghilangkan “ kartu kredit tersebut dari kehidupan kita. Kartu kredit bisa dihilangkan dengan cara membayar tagihannya dan menutup kartu kredit tersebut. Ini penyelesaian yang pamungkas. Kemudian, apabila kita ingin menghindarkan diri dari menggunakan kartu kredit yang sedang kita selesaikan pembayarannya, maka guntinglah kartu kredit tersebut. Ya! digunting ! Dengan demikian anda secara otomatis tidak akan bisa menggunakannya dan hanya bisa melakukan pembayaran saja. Dengan cara ini, restrukturisasi hutang kartu kredit seringkali menjadi lebih efektif. Mulai membayar dari kartu kredit yang memiliki bunga paling tinggi. Sekarang bagaimana dengan anda dengan tingkat ketergodaan yang rendah, tapi tetap tidak pede kalau tidak memiliki kartu kredit ? Maka cara lain untuk menghindarkan dari godaan menggesek kartu kredit adalah dengan menempatkan kartu kredit di bagian yang paling tidak mudah terlihat di dompet anda, atau tempatkan di dompet yang terpisah dengan kartu debit dan lainya. Tak terlihat, tak terlalu menggoda. Cara lain yang mungkin bagi sebagian besar orang akan mengundang tawa adalah dengan membungkus kartu kredit tersebut, berikan faktor kesulitan untuk kegiatan menggesek kartu kredit yang selama ini sangatlah dirasa mudah. Anda terbayang betapa repotnya membuka bungkus kartu kredit yang rapat berbalut lakban di depan kasir ?