http://compteur.cc/

Rabu, 23 November 2011

Pertama Kali, Perdagangan China Akan Defisit


TAIPEI - Sepandai-pandainya bajing meloncat, pasti akan jatuh juga. Pribahasa itu sepertinya tepat untuk menggambarkan situasi perekonomian China.

Negeri yang digadang-gadang sebagai Macan Asia akan mengalami defisit perdagangan. Ramalan ini diutarakan oleh penasehat The People's Bank of China, Xia Bin, kepada Reuters, seperti dikutip Selasa (22/11/2011).

Jika benar, ini merupakan sejarah buruk China, sebagai negara dengan perekonomian terbesar nomor dua di dunia.

Gejala risiko defisit ini akan terjadi di 2012, karena merosotnya permintaan ekspor dari Eropa dan Amerika Serikat, sebagai buntut krisis ekonomi di dua wilayah tersebut.

Namun, menurutnya, ancaman ini bisa segara diantisipasi dengan melakukan kebijakan moneter yang tepat."Ekonomi Amerika tahun depan tidak akan baik dan Eropa akan semakin memburuk. Ini artinya akan melemahkan permintaan barang China. Kita tidak bisa menampik kemungkinan adanya defisit perdagangan," terang Xia Bin.

Jika permintaan ekternal merosot, lanjut dia, Pemerintah China bisa menggenjot permintaan domestik dan menstimulisasi komsumsi. "Serta, menerapkan kebijakan fiskal yang proaktif terhadap UKM, mereformasi sektor pajak," jelas dia, tanpa menjelaskan nominal defisit yang akan terjadi.

Xia adalah Kepala Peneliti Keuangan pada Kabinet Thik Tank Development Research Center, yang juga menjadi salah satu anggota komite bank sentral. Namun dia tidak memiliki kewenangan dalam mempengaruhi kebijakan moneter, seperti tingkat suku bunga dan kebijakan nilai tukar yuan.

Bank Sentral China tengah menghadapi permasalahan pengucuran kredit UKM, yang dilakukan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Data Badan Statistik Nasional China menyebutkan, pertumbuhan China mengalami pelambatan yakni 9,1 persen pada kuartal ketiga tahun ini, sementara kuartal kedua hanya sedikit lebih lambat dari laju kuartal pertama yang mencapai 9,7 persen.

Pertumbuhan output industri naik 15,1 persen pada bulan Juni dari tahun sebalumnya. Kinerja ini merupakan percepatan cukup tajam dari bulan Mei yang sebesar 13,3 persen.

Saat ini, gross domestic product China mencapai 20.446 triliun yuan atau 3.146 triliun dolar Amerika dalam enam bulan terakhir. Sementara itu, investasi aset tumbuh 25,6 persen dalam enam bulan pertama. Sedangkan penjualan ritel naik 16,8 persen.

Kekhawatiran ini juga terlihat dari data pertumbuhan ekspor yang melemah menjadi 17,1 persen pada September, turun dari 24,5 persen di bulan sebelumnya.

Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi negeri penganut komunisme ini masih akan sesuai target di kisaran sembilan persen.